Ini Keunikan Atraksi Budaya Pasola Gaura Di Sumba Barat

Waikabubak, wartapolri.com – Atraksi Pasola merupakan permainan mengadu ketangkasan melempar lembing kayu ke arah lawan sambil memacu kencang kuda yang ditunggangi antara dua kelompok yang berlawanan.

Budaya Pasola di pulau Sumba khususnya di Kabupaten Sumba Barat sering dilaksanakan secara bergilir dengan tanggal tertentu setiap tahun di 3 (tiga) wilayah, yaitu pada bulan Februari dilaksanakan di Desa Patiala Bawa Kecamatan Lamboya, sedangkan pada bulan Maret dilaksanakan di Kecamatan Wanokaka dan di Gaura, Desa Wetana, Kecamatan Laboya Barat.

Pesta budaya Pasola pada umumnya mempunyai pesona dan daya tarik yang sangat memukau. Atraksi budaya Pasola Gaura, di Desa Wetana, Kecamatan Laboya Barat, Kabupaten Sumba Barat mempunyai daya tarik dan keunikan tersendiri. Pasola Gaura berbeda dengan Pasola yang ada di tempat lain. Pasola Gaura melibatkan anak-anak yang berumur tujuh sampai lima belas tahun. Anak-anak yang terlibat sebagai pemain Pasola di Gaura adalah anak-anak yang sudah mahir menunggang kuda dan melempar lembing.

Pasola Cilik di Gaura tersebut biasanya berlangsung satu hari sebelum Pasola orang dewasa. Saat hari pelaksanaan Pasola orang dewasa, anak-anak yang sudah mahir menunggang kuda dan melempar lembing juga diberi kesempatan untuk bertarung ketika pemain orang dewasa merasa kecapaian atau haus, sehingga Rato adat mengintruksikan agar anak-anak yang berumur tujuh sampai lima belas tahun diberi kesempatan untuk bertarung.

Kepala Desa Wetana, Petrus Raga Uma, SH mengatakan bahwa Pasola Cilik ini selalu dilaksanakan setiap tahun pada bulan Maret dan dilaksanakan satu hari sebelum Pasola orang dewasa.

“Pasola Cilik merupakan salah cara melatih anak-anak untuk melestarikan budaya dan juga untuk melatih keberanian mereka, agar ketika dewasa mereka bisa mengambil bagian dalam Pasola orang dewasa untuk melestarikan budaya Pasola itu sendiri,” jelas Petrus.

“Keunikan Pasola di Gaura pada saat hari H Pasola orang dewasa, ada waktunya anak-anak diberi kesempatan untuk bertarung ketika orang dewasa merasa kecapaian ataupun haus,” kata Petrus. Sehingga ketika orang dewasa kecapaian, Rato adat langsung ambil alih dan mengintruksikan agar anak-anak diberi kesempatan bertarung.

Kepala Desa Wetana dua periode itu menyebutkan bahwa “Pasola Gaura adalah Pasola yang paling aman meskipun saat bertarung kedua belah pihak saling melukai hingga bersimbah darah, namun setelah itu kedua belah pihak saling memberi salam dan juga saling menukar Ketupat sebagai simbol perdamaian setelah bertarung di atas kuda.” Jelas Petrus.

“Untuk menjaga nilai budaya Pasola serta memberikan rasa aman kepada penonton, tentunya tidak terlepas dukungan dari para Rato Adat, Pemerintah Desa, Tokoh Masyarakat, dan Tokoh Pemuda yang sangat berperan penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban Pasola Gaura.” tutup Petrus.

Pasola Gaura berlangsung selama dua hari yang dilaksanakan setiap bulan Maret setiap Tahun sesuai tanggal yang ditentukan oleh para Rato adat, dengan penyelenggaraan Pasola hari pertama merupakan Pasola anak-anak yang berumur tujuh hingga lima belas tahun dan hari kedua adalah Pasola orang dewasa.

Pasola Gaura kali ini jatuh pada hari Rabu-Kamis tanggal 15-16 Maret 2023 yang dilaksanakan di lapangan Parotango Desa Wetana Kecamatan Laboya Barat Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Penulis : Anton Gallu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *