SUMBA, wartapolri.com – Sidang Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) ke-44 yang dilaksanakan di GKS Jemaat Nggongi, Klasis Mahu Karera, resmi berakhir. Sidang Sinode GKS ke-44 ini dilaksanakan selama sembilan hari, sejak 2-10 Juli 2026. Pertemuan tertinggi pengambil keputusan GKS ini menghasilkan dokumen strategis berupa Pesan Sidang Sinode GKS ke-44, mengusung tema “Merawat Kehidupan Dalam Kasih Kristus” (Mazmur 24:1).
Sidang 9 hari ini menghasilkan Pesan Iman yang tajam menyoroti persoalan ekologis, sosial, hingga prakrik feodalisme yang masih membelenggu masyarakat Sumba. Dokumen manifesto iman tersebut telah resmi ditandatangani oleh Ketua Umum BPMS GKS, Pdt. Marlin Lomi, S.Th, dan Sekretaris Umum BPMS GKS, Pdt. Jakobus M. Bili, S.Th, M.Pd.
Melalui pesan sinode ini, GKS menegaskan posisi teologis dan panggilan profetisnya di tengah krisis multidimensional yang sedang melanda Tanah Sumba, Indonesia, hingga dunia global. Memilih Bukit Nggongi sebagai Locus Teologi, GKS menyerukan refleksi mendalam sekaligus aksi nyata dari seluruh warga jemaat, pemerintah, lembaga adat, hingga pelaku usaha.
Ringkasan Poin-Poin Strategis Pesan Sinode GKS ke-44
Berikut adalah ringkasan isu krusial yang diadopsi secara resmi dari dinamika lantai pleno persidangan:
- Kedaulatan Ekologis dan Darurat Lingkungan: GKS menyatakan sikap tegas menolak rencana eksploitasi tambang emas di Nggongi dan sekitarnya, mengecam praktik destruktif pembakaran padang sabana, serta mendesak regulasi ketat terkait darurat sampah plastik dan privatisasi wilayah pesisir.
- Intervensi Mandiri Stunting dan Kemiskinan Ekstrem: Menanggapi kemiskinan ekstrem, GKS secara khusus mendesak agar penanganan stunting dibahas dan diintervensi sebagai agenda mandiri yang komprehensif demi menyelamatkan generasi masa depan Sumba.
- Komitmen Gereja Ramah Anak: GKS meneguhkan komitmennya melawan segala bentuk kekerasan seperti KDRT, kawin tangkap, dan human trafficking dengan membangun gerakan Gereja Ramah Anak melalui kolaborasi lintas stakeholders.
- Memutus Jerat Feodalisme Melalui Pendidikan: GKS mendeklarasikan penolakan teologis terhadap pelestarian kasta kaku “Maramba dan Ata”. Gereja mendorong penguatan mutu pendidikan inklusif sebagai jalan keluar utama untuk membebaskan dan memanusiakan sesama.
- Krisis Literasi-Numerasi Anak Kelas Awal: GKS berkomitmen menggerakkan potensi internal dan mendesak YAPMAS serta pemerintah untuk bersinergi melakukan percepatan kemampuan membaca dan berhitung anak sejak usia dini melalui pondasi literasi yang benar.
- Kesehatan Mental (Mental Health) dan Etika Digital: Gereja mendorong penguatan konseling pastoral untuk kesehatan mental jemaat, sekaligus mengingatkan pentingnya etika penggunaan media sosial sebagai alat (tools) kesaksian yang bertanggung jawab.
- Meritokrasi dan Akuntabilitas Publik: GKS mengecam keras praktik KKN dan politik transaksional, serta mendesak pemerintah menerapkan prinsip meritokrasi (penempatan figur berdasarkan kompetensi dan integritas) dalam tata kelola birokrasi.
Naskah ini dirumuskan secara kolektif oleh Tim Perumus Pernyataan Sikap Sidang Sinode GKS ke-44 yang terdiri dari:
1. Pdt. Naftali Djoru, M.Si
2. Obed Umbu Kaballu, SE, M.Si
3. Pdt. Endal Meta Yiwa, S.Th
4. Pdt. Herlina Ratu Kenya, S.Th, MAPT
5. Pdt. Jeki Umbu Grasino, S.Th
6. Pdt. Em. Johanis Ngongo Umbu Lado, M.Th
7. Pdt. Martha Ari Mora, M.Si
8. Pnt. Nikolas Radadima, M.Si
9. Pdt. Trince B. Dondu, M.Th
Pesan dari Nggongi ini menjadi pengingat kuat bahwa bumi Sumba dan manusianya sangat berharga di mata Tuhan.
Dalam Pesan Iman yang dibacakan di Ibadah Penutupan, Sinode GKS menegaskan bahwa iman Kristen dipanggil untuk menjadi penjaga kehidupan. Bukan hanya kehidupan manusia, tetapi juga alam ciptaan dan tatanan sosial yang adil.
“Merawat kehidupan berarti menolak segala bentuk penindasan, perusakan, dan keserakahan. Gereja tidak boleh diam ketika tanah, air, dan hutan yang Tuhan titipkan dirusak demi kepentingan segelintir orang,” bunyi salah satu poin Pesan Iman.
Krisis Ekologis: Tanah Sumba Semakin Kritis
Sinode menyoroti alih fungsi lahan, pertambangan, dan penebangan liar yang memperparah kekeringan di Sumba. GKS mendesak pemerintah dan masyarakat adat untuk menegakkan kembali kearifan lokal “pamangu napa” dalam mengelola sumber daya alam. GKS juga berkomitmen meluncurkan program “Gereja Hijau” di seluruh jemaat: penanaman 1 juta pohon, pengelolaan sampah, dan edukasi pertanian ramah lingkungan berbasis jemaat.
Feodalisme dan Praktik Maramba yang Menindas
Ini jadi pembahasan paling alot. Sidang secara terbuka mengkritisi praktik feodalisme dan “sistem kasta” maramba-kabihu-ata yang masih melanggengkan ketimpangan. “Kita bersyukur untuk budaya. Tapi ketika budaya dipakai untuk membenarkan penindasan, perbudakan modern, dan mahar pernikahan yang memberatkan, maka itu harus dilawan dengan terang Injil,” tegas Pesan Iman.
GKS mengajak para tokoh maramba untuk menjadi pelayan, bukan tuan. Serta mendorong jemaat menghapus diskriminasi dalam pelayanan gereja.
Kemiskinan, Stunting, dan Perdagangan Orang
Sinode mencatat masih tingginya angka kemiskinan ekstrem, stunting, dan kasus perdagangan orang yang korbannya banyak anak perempuan dari Sumba. GKS mendorong setiap klasis membentuk “Pos Pelayanan Diakonia” untuk pendidikan, kesehatan, dan perlindungan anak. Gereja juga diajak aktif mengawasi dan melaporkan praktik perekrutan tenaga kerja ilegal.
Penulis : Anton Gallu

