SUMBA BARAT, wartapolri.com – Jagat media sosial di Sumba Barat dua hari belakangan ini mendadak heboh. Bukan karena kasus kriminal, melainkan sebuah karya lagu ciptaan Kapolres Sumba Barat AKBP Yohanis Nisa Pewali, S.S., yang berjudul “Wawasan Harus Berubah”.
Di tangan AKBP Yohanis Nisa Pewa, S.S., pendekatan keamanan tidak lagi hanya soal borgol dan sirene. Kapolres Sumba Barat itu memilih lirik lagu sebagai senjata barunya.
Sebuah lagu ciptaan Kapolres Sumba Barat yang berjudul ‘Wawasan Harus Berubah’ kini menjadi medium edukasi yang paling efektif untuk mengajak masyarakat Sumba Barat pada khususnya dan masyarakat Sumba pada umumnya, untuk meninggalkan praktik-praktik lama yang selama ini menjadi sumber konflik dan ketertinggalan.
Lagu ini bukan sekadar hiburan. Liriknya menghantam langsung budaya-budaya lama yang selama ini menjadi belenggu kemajuan di Tanah Leluhur.
Kapolres Sumba Barat, AKBP Yohanis Nisa Pewali, S.S., dalam keterangannya yang diterima media ini, pada Jumat (2/10/2026) malam. Kapolres menyampaikan, lirik lagu ini diciptakan lahir dari keprihatinannya melihat masih ada yang mengejar harga diri tinggi dari wawasan yang keliru.
“Saya buat lagu ini sebagai sebagai pengingat masyarakat sumba ama. Semoga kata2 lagu ini mengubah cara pikir warga kita, amin”, ujar Kapolres Yohanis Nisa Pewali kepada media ini melalui via WhatsApp.
Ia meyayangkan masih banyak orang yang rela berutang demi mengejar harga diri tinggi. Sementara anak-anak Sumba, kata dia, butuh masa depan yang lebih layak.
“Saya benar2 kasian masyarakat kita yang katanya harga diri tinggi, tapi masih berutang. Lebih baik harga diri miskin tapi terhormat, daripada kejar harga diri tinggi tapi masih berutang. Ini yang saya sampaikan lewat lagu”, tegasnya.
Kapolres menegaskan, lagu ini tidak anti-adat. Justru ia sangat menghormati adat Sumba. “Wawasan Harus Berubah bukan berarti adat harus hilang. Adat harus naik kelas. Yang indah kita jaga, yang melukai kita tinggalkan. Itu pesan lagu ini,” ujar Kapolres Yohanis Nisa Pewali.
Lagu yang mendadak viral diberbagai group WhatsApp dan Facebook ini menguntai metafora keindahan padang sabana dengan urgensi transformasi pola pikir. Pantau media, lirik lagu ini sengaja dibuat sederhana menggunakan bahasa Indonesia yang mudah diingat, dengan irama pop Sumba modern.
Dibalik nadanya yang merdu, lirik lagu ini menghujam langsung ke jantung kesadaran kolektif:
Jangan tunggu tumbuh baru tanam harapan
Jangan tunggu datang baru kita bergerak
Wawasan harus berubah
Sumba bangkitlah, lepas belenggu lama
Lihat dunia terbuka
Sekolah untuk anak
Kerja untuk tanam
Adat tetap dijaga
Budaya harus berubah
Masa depan di depan mata
Bagi masyarak Sumba, bait-bait tersebut bukan sekedar hiburan melepas lelah, melainkan vitamin baru untuk merubah mindset warga. Lirik lagu ini diciptakan ketika Sumba saat ini berada di persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi leluhur dan atau merangkul kemajuan zaman agar tidak tergilas oleh peradaban global.
Karya ini merajut pemaknaan mendalam identitas jati diri. Kain tenun tidak lagi dipandang sekadar kain busana, melainkan mahkota harga diri dan sejarah peradaban bagi orang Sumba.
Tenun ibu bukan hanya kain di badan, itu cerita, itu harga diri
Laut kita biru, tanah kita kaya
Kalau pikiran maju, hidup pasti jadi
Wawasan harus berubah, budaya pun ikut berubah
Cara berpikir harus lebih terang.
Demikian penggalan lirik yang mengunggah kebanggaan atas kekayaan maritim dan marwah adat Sumba.
Dalam lirik lagu tersebut, juga terdapat peringatan keras terkait krisis kepemilikan tanah dan jebakan gensi sosial. Kapolres Sumba Barat selaku pencipta lagu menyuarakan kritik menohok atas kebiasaan pesta adat dengan biaya fantastis yang kerap menyisakan beban berkepanjangan anak-anak.
Lirik lagu tersebut mengingatkan masyarakat agar tidak menjual tanah warisan leluhur hanya untuk membiayai pesta semalam yang megah dan gengsi.
Jangan jual tanah untuk pesta semalam
Jangan suka berhutang demi alasan harga diri
Lebih baik tanah milikmu untuk masa depan anak cucu ke depan
Kita orang Sumba, orang kuat
Pulau yang indah, masyarakat yang humanis
Zaman su maju, kita jangan mundur, anak harus sekolah biar tidak tertipu
Pesan lagu ini bukan sekadar karya seni, tapi cerminan fakta pahit di pulau Sumba. Di banyak wilayah di pulau Sumba, tradisi pesta adat seperti masuk minta, belis, dan pesta adat lainnya seringkali menuntut biaya yang sangat besar.
Karena gengsi dan tekanan sosial ‘takut dianggap miskin’, tidak sedikit warga yang nekat menjual tanah warisan, tanah ulayat, bahkan sawah produktif hanya untuk menggelar pesta besar-besaran dengan puluhan babi dan kerbau. Setelah pesta selesai, yang tersisa hanyalah foto dan utang. Sementara anak cucu tidak punya lahan untuk menanam. Mereka akhirnya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Penulis: Anton Gallu

